Cinta Ibu Selalu Tulus

H

arta karun sesungguhnya bukanlah pada apa yang terlihat (harta benda) akan tetapi terkadang ada pada yang tidak terlihat. Seperti Cinta Ibu Selalu Tulus pada anaknya serta selalu ikhlas tanpa mengharap imbalan apapun. Semoga cerita ini dapat menjadi renungan kita akan cinta ibu kita yang sangat tulus pada anaknya.

Setelah menjalani masa kehamilan selama 9 bulan, pada akhirnya ibu ini dapat melalui proses persalinan dengan lancar. Dengan wajah berseri, si ibu ingin melihat jabang bayi yang baru dilahirkannya. Saat jabang bayi yang sudah terbungkus selimut hangat berada ditangannya, dengan perlahan dibukalah selimut itu. Raut terkejut terpancar diwajah sang ibu dan dokter yang berada didekatnya seperti tidak tega untuk mengatakannya.

Cinta Ibu Selalu Tulus

Cinta Ibu Selalu Tulus

Bayi mungil yang dinanti-nanti mempunyai sedikit kekurangan oleh Allah SWT, keduan daun telinganya tidak ada! Walau begitu, sang ibu tetap memandang dan membelai bayi mungilnya dengan pandangan kasih dan sayang. Akan tetapi Allah juga memberikan kelebihan atas kekurangannya, yaitu organ pendengaran anak ini berfungsi secara normal sejalan dengan waktu, tidak seperti yang dikhawatirkan bahwa kondisi telinganya akan mempengaruhi organ pendengaran lainnya.

Dengan berjalannya waktu, bayi mungil tumbuh menjadi anak kecil yang tidak mempunyai masalah dengan pendengarannya hanya saja memang wajahnya terlihat agak ‘aneh’. Pada suatu hari, dengan wajah sembab berurai air mata, anak inipun berlari ke pangkuan ibunya dan mengadu bahwasanya dirinya telah diolok-olok oleh teman-teman bermainnya dan dijuluki ‘si anak aneh’. Tanpa harus berkata atau bertanya, ibu yang menyayangi anaknya ini berurai airmata dan ikut merasakan bagaimana menderitanya buah hatinya ini harus menghadapi kekecewaan seumur hidupnya.

Tumbuh dengan kekurangan fisik anak lelaki ini tetap tumbuh menjadi pria dewasa yang cukup tampan dan cerdas serta banyak teman. Orangtuanya, terutama ibunya selalu mendorong dan memberi semangat pada dirinya hingga si anak dapat mengembangkan bakat dan hobinya di bidang musik dan menulis.

Baca Juga :
Berani Meng-Introspeksi Diri Sendiri
[Kisah Inspiratif] Bawang Hitam dan Bawang Putih

Pada suatu hari, ayah anak laki-laki ini mengatakan bahwa ternyata ilmu kedokteran dapat melakukan cangkok daun telinga asalkan ada orang yang bersedia mendonorkan daun telinganya. Dan Alhamdulillah, beberapa bulan penantian si anak mendapat kabar bahwa sudah ada seseorang yang tidak mau disebutkan namanya bersedia untuk mendonorkan daun telinganya.

Singkat cerita, operasi berjalan dengan sukses. Anak lelaki ini seperti terlahir kembali. Wajah yang tampan, ditambah kini ia sudah punya daun telinga, membuat ia semakin terlihat menawan. Bakat musiknya yang hebat juga berubah menjadi kejeniusan. Anak laki-laki ini terus membuahkan prestasi yang membuat bangga kedua orangtuanya dan tentunya dirinya sendiri.

Berjalannya waktu, si anak tumbuh dewasa dan berkarir sebagai seorang diplomat dan menikah dengan seorang wanita yang ia cintai. Masih ada ganjalan di dalam hati dan pikirannya siapakah yang telah mendonorkan kuping untuk dirinya. Saat hal ini ia tanyakan pada ayahnya, sang ayah hanya menjawab:

“ayah yakin kau tidak akan dapat membalas kebaikan orang yang telah memberikan daun telinganya pada dirimu dan sesuai perjanjian belum saatnya kau mengetahui siapa sosok orang baik hati ini’.

Tahun terus berganti dan rahasia tetap dipegang teguh oleh kedua orang anak lelaki ini. Hingga suatu saat, dengan ikhlas anak lelaki ini harus melepas kepergian untuk selamanya ibunya yang selama ini sudah menyayangi dan mendampinginya. Dengan lembut, sang ayah menyibakkan rambut istrinya, dan alangkah terkejutnya si anak saat melihat daun telinga ibunya sudah tiada.

Sang ayah hanya berkata,

‘ibumu merasa sangat senang dapat memanjangkan rambutnya dan tidak merasa kehilangan kecantikannya hanya karena kehilangan daun telinganya’.

Menangislah sang anak disamping jenasah ibunya.

Benang merah dari kisah ini adalah:

  • Kecantikan sejati tidak terletak pada penampilan tubuh namun ada di dalam hati.
  • Harta karun sesungguhnya bukanlah pada apa yang terlihat (harta benda) akan tetapi terkadang ada pada yang tidak terlihat. Seperti Cinta Ibu Selalu Tulus pada anaknya yang selalu ikhlas tanpa mengharap imbalan apapun.
  • Sebagai anak hendaknya jangan sekalipun melupakan jasa seorang ibu, sebab apapun yang telah kita lakukan tidak akan sebanding dengan cinta dan ketulusan ibu dalam membesarkan, mendidik, serta merawat kita.

(berdasarkan cerita dari seorang teman)

Leave a Reply