[Kisah Inspiratif] Bawang Hitam dan Bawang Putih

Cerita tentang bawang merah dan putih pasti sering terdengar untuk diceritakan pada anak-anak kita. Akan tetapi kisah Bawang Hitam dan Bawang Putih ini agak berbeda, semoga dapat diambil manfaatnya.

Ini kisah tentang sepasang anak kembar sejenis bernama Bawang Hitam dan Bawang Putih. Seperti anak kembar pada umumnya, Bawang Hitam dan Bawang Putih selalu mempunyai penampilan yang sama, mereka selalu terlihat kompak dan selalu menggunakan busana yang sama, mulai dari baju hingga kaos kakipun sama. Pita rambut yang menghiasi kepala mereka dan tas sekolahpun sama.

Saat usia mereka menginjak 5 tahun, orangtua mereka mengajak untuk menyaksikan pertunjukan musik, sebuah orkestra yang sangat menarik. Salah satu yang paling menonjol dalam orkestra tersebut adalah permainan pianonya. Hingga sepanjang perjalanan pulang dari menyaksikan orkestra si kembar selalu berbicara ingin memiliki alat musik piano.

Bawang Hitam dan Bawang Putih

Hitam dan Putih

Selang beberapa bulan kemudian, pada saat ulang tahun si kembar, orangtua yang perhatian pada anaknya ini memberikan sepasang piano untuk hadiah ulang tahun mereka yang ke 6. Seperti biasa, pianonyapun mempunyai bentuk dan warna yang sama. “Terima kasih ayah, ibu, Hitam cinta ayah dan Ibu”, ujar Bawang Putih. Begitu juga dengan Bawang Putih, sebagai anak yang terdidik dengan baik Bawang Putih juga mengucapkan terima kasih dan rasa sayang pada orangtuanya.

Saat tidur tiba, sepasang anak kembar ini juga tidak pernah lupa untuk berdoa dan mengucapkan syukur kepada Tuhan atas hadiah piano cantik yang mereka terima. “Kami sangat bersyukur kepada Mu atas anugrahmu berupa piano yang cantik ini”, demikian doa keduanya.

Waktu terus berjalan, bulan berganti tahun dan sepasang kembar ini tidak pernah lupa untuk bersyukur pada Tuhan atas hadiah pianonya. Bawang Hitam selalu merasa bangga dan bercerita kepada teman-teman di sekolahnya dan juga tetangganya. Bawang Hitam selalu berkata bahwa ia merupakan anak yang paling beruntung dan tidak pernah lupa untuk mengucapkan rasa syukur dan terima kasih pada Tuhan dan orangtuanya.

Sedangkan Bawang Putih rasa syukur dan terima kasihnya ditunjukan dengan selalu membersihkan pianonya, mengelapnya, dan selalu berupaya agar piano kesayangannya selalu terlihat bersih dan terawat. Bawang Hitam sesekali memainkan pianonya dengan semampunya.

Bawang Putih juga sesekali memainkan pianonya semampunya.

Tahun berganti tahun, orangtua mereka mengundang guru piano ke rumah untuk memberika les piano kepada si kembar dengan maksud agar si kembar dapat memainkan piano dengan lebih mahir lagi. Dari masa ke masa mereka sama-sama belajar bermain piano, namun disini mulai tampak perbedaan antara Bawang Hitam dan Bawang Putih.

Bawang Hitam tampak tidak bersungguh-sungguh dalam belajar piano dan lebih berkonsentrasi untuk selalu membersihkan pianonya. Sebelum dan sesudah belajar piano atau setelah pianonya tersentuh orang lain, maka Bawang Hitam langsung buru-buru membersihkan pianonya. Rasa sayang pada pianonya membuat Bawang Hitam selalu membersihkan pianonya setiap bangun dan sebelum tidur. Bawang Hitam lebih banyak menghabiskan waktu untuk membersihkan pianonya dibanding memainkannya.

Apakah yang Bawang Putih lakukan? Bawang Putih sangat semangat dan selalu mencurahkan perhatian penuh ketika belajar bermain piano dengan instrukturnya. Dengan usaha yang keras dan giat berlatih Bawang Putih tetap berlatih kemahiran bermain pianonya walaupun saat tidak didampingi oleh instrukturnya. Setiap menemukan kesulitan Bawang Putih selalu berusaha mencari solusinya dan tidak segan untuk selalu bertanya kepada orang yang lebih mahir memainkan piano.

Saat remaja, Bawang Putih sering meluangkan waktu untuk melihat pertunjukan-pertunjukan musik dan setelah selesai menyaksikan pertunjukan piano dengan tidak segan Bawang Putih menghampiri sang pianisnya untuk mendapatkan tips-tips agar dapat memainkan piano dengan lebih baik. Karena fokus dan serius dalam melatih bermain piano serta tidak segan untuk selalu meminta nasihat-nasihat dan membaca buku-buku tentang bermain piano dan musik, sering kali Bawang Putih melupakan zona kenyamanannya.

Bawang Putih menjadi rajin menabung dari uang jajannya demi mendapatkan les tambahan diluar selain yang di rumah. Oleh karenanya Bawang Putih menjadi kurang memiliki waktu untuk membersihkan pianonya setiap hari. Bawang Putih hanya dapat membersihkan pianonya 2 atau 3 hari sekali dan Bawang Putih juga tidak serajin Bawang Hitam untuk bercerita kepada teman-temannya tentang pianonya dan ucapan syukur karena telah memiliki piano.

Bulan berganti tahun dan tahunpun terus berganti…mereka berdua melakukan kegiatan-kegiatan itu tahun demi tahun. Bawang Hitam banyak menghabiskan waktu membersihkan, bercerita dan sesekali saja berlatih piano. Sedangkan Bawang Putih rajin melatih diri bermain piano, mencari referensi dan tips-tips sukses dari para pianis terkenal serta rajin mengikuti kelas training piano sebagai tambahan di luar latihan di rumah. Bawang Putih hanya sesekali saja membersihkan piano dan bercerita pada teman-temannya. Bawang Putih lebih banyak menghabiskan waktu berlatih dan berlatih. Maka tidak heran jika piano pemberian orangtua mereka menjadi kurang terawat dibanding milik Bawang Hitam. Kalah mengkilap dan bersih serta sudah agak kusam.

Sepuluh tahun berlalu. Bawang Putih menjadi bintang di sekolahnya karena dapat bermain piano dengan mahir dan banyak menguasai lagu-lagu dengan baik. Bawang putih juga sering mengikuti pagelaran musik yang diselenggarakan dan mendapat banyak pujian karena permainan pianonya sangat menghibur para pendengar. Dari sinilah akhirnya Bawang Putih dapat membeli pianonya sendiri bahkan yang lebih bagus.

Bawang Hitam tetap dengan kegiatannya yaitu rajin bersyukur dan membersihkan pianonya. Piano Bawang Hitam tetap awet dan mengkilap. Hanya sesekali saja Bawang Hitam memainkan pianonya itupun dengan membawakan lagu yang tidak banyak fariasinya.

Demikianlah bentuk rasa syulur itu, ada 2 bentuk rasa syukur atas potensi yang telah diberikanNya kepada kita, yaitu bersyukur pasif seperti yang dilakukan Bawang Hitam dan bersyukur aktif seperti yang dilakukan oleh Bawang Putih. Saat diberikan potensi oleh Nya, maka rasa syulur seperti apakah yang ingin kita lakukan? Bersyukur pasif atau aktif?

Apakah kita sudah memanfaatkan potensi yang ada dengan maksimal?

Jika kita menjadi orangtua dalam cerita diatas, akan lebih senang dengan hasil siapakah? Bawang Hitam atau Bawang Putih? Jika saya menduga, tentunya sebagai orangtua akan lebih senang dengan hasil Bawang Putih begitu juga dengan Yang Maha Kuasa.

Leave a Reply