Media Sosial Yang Berujung Pada Individualisme

Saat Media Sosial seperti Facebook, Twitter, Path dan Instagram di buat, ianya ditujukan dengan fungsi untuk mengetahui keadaan keluarga atau sahabat, dengan niatan semakin mendekatkan pacar ataupun gebetan. Namun kenyataannya, media sosial malah membuat kita mengetahui dunia yang lebih luas, bahkan cenderung tidak perlu. Followers dan Friends yang sama sekali tidak kita kenal, bahkan belum pernah kita temui. Lantas, mengapa Facebook, Twitter, Path dan Instagram yang memberikan dunia dalam genggaman malah membuat kita semakin jauh dengan hal-hal yang terdekat dari kita? Autisme Media Sosial atau memang media sosial sudah bergeser menjadi kebutuhan pokok?

Media Sosial Yang Berujung Pada Individualisme

Social Media Causes Emerging of Modern Individualism

Sore itu di dalam salah satu bus TransJakarta, Seorang anak kecil berusia 5 tahunan duduk di depan saya. Ia kemudian bertanya dengan polosnya pada ibunya; “ma, mama…..kok semua pegang hape?”. Pertanyaan itu hanya dijawab si ibu dengan senyum sambil melekatkan jari telunjuk ke bibir menyuruh anaknya diam.

Sampai di rumah hingga malam saya masih kepikiran pertanyaan anak kecil tersebut dan mencoba memaknai fenomena yang berkembang saat ini. Hal apa yang pertama kali yang kamu lakukan saat bangun tidur???? Sebagian besar akan menjawab “liat atau ngecek handphone/gadget”. Hal yang biasa memang dan sudah berubah menjadi kebutuhan bagi manusia di era modern seperti sekarang ini. (termasuk saya…^_^).

Kemudian…

Pernahkah anda menghitung berapa kali atau seberapa seringnya anda menyentuh benda bernama handphone atau gadget itu?

Baca Juga :   9 Gaya Imut Wanita Ketika Berfoto Selfie

Mungkin sudah tidak terhitung atau mungkin ada yang bahkan tidak bisa lepas dari benda satu ini. Bahkan tidak sedikit yang setuju dengan pernyataan “lebih baik ketinggalan dompet daripada ketinggalan handphone atau gadget”. Seolah-olah benda ini sudah menjadi kebutuhan pokok bagi kehidupan kita.

Melihat fenomena sekitar kita… diatas angkot, ditempat umum bahkan disaat sendirian kita tidak bisa lepas dari aktivitas mengoprak aprik handphone atau gadget. Dunia kita sudah tersempitkan hanya Antara kita individu dengan benda yang dinyatakan mampu menjangkau dunia. Jargon “dunia dalam genggaman anda” benar-enar terbukti sudah…

Satu cerita.. beberapa waktu yang lalu saya dan beberapa sahabat berkumpul disalah satu café, ceritanya kita ingin reuni berbagi kisah yang terlewati selama berpisah. Ditengah pembicaraan tiba-tiba suasana menjadi hening karena semuanya tampak asyik dengan gadget atau handphone yang dimilikinya. Sekitar 5 sampai 10 menit kita diam tanpa suara. Hingga akhirnya salah seorang teman nyeletuk

“koq kita jadi pada sibuk ama gadget masing-masing yah?”

Inilah fenomena saat ini. Era new media menghantarkan kita pada sikap individualisme yang mengecilkan bahkan bisa jadi menghilangkan makna dan kekuatan komunikasi tatap muka.

“New media menjauhkan yang dekat” tetapi tidak akan mungkin bisa mendekatkan yang jauh secara optimal. Selalu ada kekurangan dari komunikasi bermedia. Secanggih dan se-efektif apapun media tetap tidak bisa mengalahkan kekuatan komunikasi tatap muka. Karena ada beberapa hal yang mutlak harus dilakukan melalui komunikasi tatap muka. Tetapi gelombang besar new media saat ini sungguh dahsyt mengubah semua konsep komunikasi yang sebelumnya tertata dengan baik dan rapi.

Keberadaan new media mengancam keberlangsungan komunikasi tatap muka dan sebaliknya menyuburkan sikap individualisme. Dengan menghadirkan konsep dunia dalam genggaman anda memang memberi kemudahan disatu sisi tapi mengkikis point krusial dalam hidup yang tidak bisa digantikan oleh komunikasi bermedia.

Baca Juga :   Thank You - Aku Akan Tetap Mencintaimu

Melalui tulisan ini, saya ingin mengajak teman-teman untuk kembali membudayakan komunikasi tatap muka… mari kita berkampanye “one day without gadget”.. maksimalkan untuk komunikasi tatap muka.. satu hari tanpa media dan fokus pada orang-orang disekeliling kita. Toh.. 20 tahun lalu sebelum dunia mengenal kecanggihan seperti ini, manusia tetap hidup dan berkembang.. bukan bearti sekarang tidak mungkin kan?

Apa yang kita lakukan saat ini, men-individualisme kan diri merupakan manifestasi bagi generasi muda yang akan datang menjadi masyarakat individualis, cuek, introvert dan lambat laun akan mengikis sisi kemanusian kita. Manusia akan dikendalikan oleh tekhnologi dan kemampuan manusia hanya akan berkembang sebatas kemampuan tekhnlogi itu sendiri berkembang.

Cerdaslah bermedia… cerdas memanfaatkan media, menggunakan dan tahu kapan media digunakan dan kapan harus dihentikan. Sebelum kita tidak lagi bisa memutus ketergantungan yang mendalam terhadap media..mari kita perbaiki dan latih lagi diri berkomunikasi secara alami bukan dengan bermedia.

Nara Sumber : Genny Gustina – Lecturer, a daughter, a feminist that still trying to understand how to be a good woman in this world, traveller and I’m happy to be me

Leave a Reply