Tips Membina Hubungan Cinta

Berapa banyak dari anda, saya, kita telah belajar banyak mengenai bagaimana membangun hubungan cinta seperti yang diidam-idamkan? Di rumah, di sekolah, di kantor, dan di waktu kapanpun juga? Ada seni tersendiri untuk membangun hubungan cinta yang kuat dan langgeng. Berikut adalah beberapa tips yang bisa anda terapkan untuk berbagai jenis hubungan cinta; dengan kekasih, suami, istri, adik, kakak, ayah ibu, teman, sahabat, rekan kerja, dan lain sebagainya. Sebuah hubungan penuh cinta bisa diterapkan dalam berbagai jenis hubungan; tak ada batasnya.

Tips Membina Hubungan Cinta

Tips Membina Hubungan Cinta

Tips Membina Hubungan Cinta

1. Ciptakan lingkungan nyaman, dimana anda bisa saling berbagi dan percaya tanpa ada rasa takut sedikitpun.

Ada kalanya dua pasangan harus berselisih paham karena suatu hal: besar maupun kecil; penting atau tidak penting. Jangan pernah menginterupsi, bahkan pada diri anda sendiri. Belajarlah untuk berselisih paham dan berdebat secara adil. Jangan mengancam, menggunakan kata-kata kotor, memanggil nama secara kasar. Segera minta maaf di saat anda menemui kondisi bahwa andalah yang harus meminta maaf. Jika anda merasakan kemarahan yang sangat memuncak, berhentilah berdebat. Menyendirilah, bernafas, dan tenanglah. Kembalilah ketika pikiran telah jernih. Ingat, pasangan bukanlah musuh. Dengan cara ini, anda mencoba menunjukkan bahwa suatu perdebatan dan pengutaraan pendapat tidak kalah oleh rasa marah, dan dapat disampaikan dengan bebas, tanpa ancaman.

2. Pisahkan antara Fakta dan Perasaan

Keyakinan dan perasaan dapat memicu terjadinya konflik. Tanyakan pada diri anda sendiri, adakah sesuatu di masa lalu saya yang berpengaruh terhadap cara saya memandang situasi saat ini? Apakah ini sebenarnya karena dia, atau saya sendiri? Apakah kenyataan yang sebenarnya? Setelah anda mampu memisahkan antara fakta dan perasaan, anda dapat melihat pasangan anda dengan lebih jernih, objektif, dan mampu bertindak adil dalam membuat komitmen atau dalam menyelesaikan konflik.

3. Berhubunganlah dengan Bagian-bagian dalam Diri Anda

Masing-masing manusia tidaklah terdiri dari elemen tunggal. Kita lebih seperti kelompok paduan suara atau band dengan berbagai jenis suara atau instrumen. Apa yang pikiran anda katakan? Apa yang hati anda katakan? Contoh: pikiran saya mengatakan, “Saya ingin meninggalkannya”; tapi hati saya mengatakan “Saya sangat mencintainya”. Kedua suara tersebut berbicara masing-masing, maka tugas anda adalah mengkomunikasikan keduanya agar mampu memciptkaan suara yang harmonis dan tidak sumbang. Dengan cara ini, anda akan menciptakan keputusan yang tidak setengah-setengah.

4. Mengembangkan dan Memupuk Kasih Sayang

Cobalah amati diri anda sendiri dan juga pasangan anda tanpa menilai. Sebagian dari diri anda mungkin akan mencoba menilai, tapi hindari untuk mengidentifikasi hal yang dinilai. Menilai lebih dekat kepada hal-hal asumtif, dan dapat menutup kesempatan yang sebelumnya terbuka lebar. Lawan dari menilai adalah kasih sayang. Ketika anda penuh rasa sayang, maka anda menjadi sangat terbuka, terhubung dengan baik, dan menciptakan ruang diskusi dengan pasangan yang penuh rasa hormat. Semakin anda belajar untuk melihat pasangan dengan kasih sayang, anda akan lebih memiliki kuasa untuk merespon atau bertindak (mengambil keputusan) daripada hanya sekedar bereaksi (berkomentar semata).

5. Ciptakan Subyek “Kita” yang Bisa Menaungi Dua “Saya”

Dasar untuk menumbuhkembangkan sebuah hubungan yang saling mendukung adalah kemampuan untuk berdiri sendiri sekaligus berdiri bersama. Dalam hubungan yang sepenuhnya saling bergantung, masing-masing pribadi mengorbankan sebagian dari dirinya untuk bisa menciptakan satu kesatuan. Ini berarti masing-masing “kehilangan” sebagian dari keutuhan dirinya. Jika seseorang mampu berdiri sendiri dan bersama-sama, masing-masing dari “saya” memiliki kontribusi pada penciptaan “kita” yang jauh lebih kuat daripada jenis hubungan yang saling bergantung.

Perbedaan masing-masing bukanlah hal negatif. Anda tidak membutuhkan orang yang harus memiliki kesamaan keinginan, hobi, pemikiran. Kadang kita terlalu takut dan berkeyakinan bahwa perbedaan menunjukkan ketidakmampuan untuk bisa bersama. Padahal sebaliknya, perbedaan-perbedaan justru menjadi hal yang mampu membuat sebuah hubungan jauh lebih menarik, penuh cerita, dan selalu “berapi-api”.

6. Masing-masing Bertanggungjawab terhadap Diri Sendiri Secara Emosional

Jangan berharap bahwa pasangan anda harus mampu mengisi kekosongan-kekosongan emosional anda., dan juga jangan lakukan hal yang sama padanya. Sebenarnya, masing-masing dari kita mampu “menyembuhkan” diri kita sendiri. Jika yang anda harap adalah dukungan, semangat, dan dorongan kuat untuk anda yang sedang mencoba menghadapi masalah anda sendiri, tentu ini adalah hal yang tepat. Meskipun sebuah hubungan saling terkait, tapi andalah yang paling bertanggungjawab menghadapi masalah anda sendiri. Jangan campuradukkan. Pada kenyataannya, menjalani sebuah hubungan adalah tentang melihat ke dalam diri sendiri, dan menyembuhkan setiap “penyakit” secara mandiri.

7. Bertanyalah Jika Anda tidak Yakin atau Berasumsi atas Suatu Hal

Sering, sangat sering, dan bahkan sangat lazim, kita mereka-reka, menginterpretasi, dan membuat cerita sendiri atas perubahan tingkah laku pasangan kita. “Hmmm, dia sudah tidak setia”, “Ahh…. dia pasti sudah mendua”. “Ya Tuhan, dia sudah tidak mencintaiku lagi”, “Rasa sayangnya sudah berkurang”, dan pemikiran-pemikiran sejenis biasanya muncul. Sayangnya, semua itu muncul karena diskusi dengan diri anda sendiri, bukan dengan dia. Tidak adil, tidak objektif. Bertanyalah kepadanya mengenai perubahan perilaku itu, ada masalah apa, dsb.

8. Sediakan Waktu untuk Hubungan Anda

Tidak peduli siapa anda, apa pekerjaan anda, seberat apa pekerjaan itu, anda perlu memelihara hubungan dengan sebaik-baiknya. Waktu untuk hubungan tidak akan berefek baik apabila dimunculkan sebagai sebuah “kebetulan”, sekedar sebagai “pengisi waktu”, “jika sempat”. Sediakan waktu, buat jadwal, dan siapkan rencana untuk setiap pertemuan. Kualitas pertemuan tidak terletak pada berapa lama anda bertemu, dimana anda melakukan pertemuan, tapi pada apa yang anda rencanakan.

References and further reading:

The Psycology of Love (1989) by Robert J. Sternberg, Michael L. Barnes
– Why We Love: The Nature and Chemistry of Romantic Love (2004) by Helen Fisher
– The Psychology of Romantic Love: Romantic Love in an Anti-Romantic Age (2008) by Nathaniel Branden
– Sacred Psychology of Love: The Quest for Relationships That Unite Heart and Soul (I999) by Marilyn C. Barrick

© http://shuneo.net – Koleksi Puisi, Kata Mutiara, dan Cerita Cinta

Leave a Reply